Kenapa Orang Tidur Ngorok? Ini Penyebab, Faktor Risiko, dan Cara Mengatasinya
- account_circle Trisara Indonesia
- calendar_month Rabu, 14 Okt 2026
- visibility 9
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
TRISARA INDONESIA – Mendengkur atau ngorok saat tidur sering dianggap sebagai hal biasa. Suara yang muncul ketika seseorang terlelap bahkan kerap menjadi bahan candaan di tengah keluarga. Namun, tahukah Anda bahwa kebiasaan ngorok ternyata bisa dipengaruhi oleh kondisi tubuh dan gangguan kesehatan tertentu?
Tidak sedikit orang yang bertanya-tanya, kenapa seseorang bisa tidur sambil mengeluarkan suara dengkuran keras, sedangkan orang lain dapat tidur dengan tenang? Jawabannya berkaitan dengan aliran udara dan kondisi saluran pernapasan selama tidur.
Kenapa Orang Bisa Ngorok Saat Tidur?
Penyebab utama seseorang mendengkur adalah getaran jaringan di saluran pernapasan bagian atas ketika udara melewatinya. Saat tidur, otot-otot di sekitar tenggorokan menjadi lebih rileks. Akibatnya, ruang untuk aliran udara dapat menyempit dan menimbulkan getaran yang menghasilkan suara dengkuran.
Semakin sempit saluran pernapasan, suara ngorok bisa terdengar semakin keras. Meski demikian, suara dengkuran yang keras tidak selalu menunjukkan tingkat keparahan suatu gangguan.
Ada beberapa faktor yang dapat meningkatkan kemungkinan seseorang mendengkur, mulai dari posisi tidur hingga kondisi kesehatan tertentu.
1. Posisi Tidur Telentang
Salah satu penyebab ngorok yang cukup umum adalah tidur dalam posisi telentang. Dalam posisi ini, lidah dan jaringan lunak di sekitar tenggorokan dapat bergerak ke arah belakang sehingga mempersempit jalur udara.
Akibatnya, aliran udara menjadi kurang lancar dan menimbulkan getaran saat bernapas.
Bagi sebagian orang, mengubah posisi tidur menjadi menyamping dapat membantu mengurangi dengkuran, terutama jika suara ngorok lebih sering muncul ketika tidur telentang.
2. Kelebihan Berat Badan
Berat badan berlebih dapat meningkatkan risiko mendengkur karena penumpukan jaringan lemak di sekitar leher bisa mempersempit saluran pernapasan.
Ketika tidur, kondisi tersebut dapat membuat aliran udara lebih mudah terhambat dan memicu suara dengkuran.
Karena itu, menjaga berat badan tetap sehat dapat membantu mengurangi risiko ngorok pada sebagian orang. Namun, orang dengan berat badan normal juga bisa mengalami masalah yang sama.
3. Hidung Tersumbat
Hidung tersumbat akibat pilek, alergi, atau peradangan pada saluran hidung juga dapat menyebabkan seseorang mendengkur.
Ketika aliran udara melalui hidung terhambat, seseorang mungkin bernapas melalui mulut. Kondisi ini dapat meningkatkan kemungkinan munculnya getaran pada jaringan di sekitar tenggorokan.
Jika dengkuran hanya terjadi ketika sedang pilek, suara tersebut mungkin berkurang setelah hidung kembali lega. Namun, hidung tersumbat yang berlangsung lama perlu diperiksa untuk mengetahui penyebabnya.
4. Konsumsi Alkohol dan Obat Penenang
Alkohol dan obat-obatan tertentu yang memiliki efek menenangkan dapat membuat otot saluran pernapasan lebih rileks. Kondisi ini berpotensi memperburuk dengkuran.
Karena itu, menghindari alkohol menjelang tidur dapat menjadi salah satu langkah untuk mengurangi risiko mendengkur. Jangan menghentikan atau mengubah penggunaan obat resep tanpa berkonsultasi dengan dokter.
5. Usia dan Kondisi Anatomi Tenggorokan
Risiko mendengkur dapat meningkat seiring bertambahnya usia karena perubahan kekuatan dan elastisitas jaringan tubuh.
Selain itu, bentuk rahang, ukuran amandel, kondisi langit-langit mulut, serta struktur hidung dan tenggorokan juga dapat memengaruhi kelancaran pernapasan ketika tidur.
Inilah alasan seseorang bisa tetap mendengkur meskipun tidak memiliki berat badan berlebih atau tidak sedang mengalami pilek.
Apakah Ngorok Saat Tidur Berbahaya?
Mendengkur sesekali tidak selalu menandakan penyakit serius. Namun, dengkuran yang terjadi hampir setiap malam, sangat keras, atau disertai jeda napas perlu diwaspadai.
Salah satu kemungkinan penyebabnya adalah ‘obstructive sleep apnea’ (OSA), yaitu gangguan tidur ketika saluran pernapasan berulang kali menyempit atau tertutup sehingga aliran udara berkurang atau berhenti sementara.
Gejalanya dapat berupa napas terhenti saat tidur, terbangun sambil tersedak atau terengah-engah, sakit kepala pada pagi hari, serta rasa mengantuk berlebihan pada siang hari.
Jika mengalami tanda-tanda tersebut, sebaiknya konsultasikan kondisi Anda kepada dokter. Pemeriksaan lebih lanjut mungkin diperlukan untuk memastikan apakah dengkuran berkaitan dengan gangguan tidur.
Cara Mengurangi Ngorok Saat Tidur
Ada beberapa langkah yang dapat dicoba untuk mengurangi dengkuran, antara lain:
– Tidur menyamping jika dengkuran lebih sering muncul saat telentang.
– Menjaga berat badan tetap sehat.
– Menghindari alkohol menjelang tidur.
– Menjaga jadwal tidur yang teratur.
– Menangani hidung tersumbat sesuai penyebabnya.
– Berkonsultasi dengan dokter jika dengkuran berlangsung terus-menerus atau disertai gangguan pernapasan.
Tidak semua cara efektif untuk setiap orang. Penanganan yang tepat bergantung pada penyebab mendengkur dan ada tidaknya gangguan tidur yang mendasarinya.
Ngorok saat tidur terjadi ketika jaringan di saluran pernapasan bergetar akibat aliran udara yang melewati ruang yang menyempit. Posisi tidur, berat badan, hidung tersumbat, konsumsi alkohol, usia, dan struktur saluran pernapasan dapat menjadi faktor pemicunya.
Meski sering dianggap sepele, dengkuran yang keras dan disertai jeda napas tidak sebaiknya diabaikan. Mengenali penyebabnya sejak dini dapat membantu seseorang mendapatkan penanganan yang tepat sekaligus meningkatkan kualitas tidur.
- Penulis: Trisara Indonesia
- Editor: Andi
- Sumber: Ai
