Breaking News
dark_mode
Trending Tags
Beranda » Sosbut » Topeng Labu Muaro Jambi Ajarkan Kesetaraan, dari Tradisi Pengasingan hingga Panggung Seni

Topeng Labu Muaro Jambi Ajarkan Kesetaraan, dari Tradisi Pengasingan hingga Panggung Seni

  • account_circle Ficus Nation
  • calendar_month Rabu, 14 Okt 2026
  • visibility 19
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

TRISARA INDONESIA – Tradisi Topeng Labu dari Desa Muara Jambi, Kabupaten Muaro Jambi, bukan sekadar kesenian turun-temurun. Di balik topeng yang terbuat dari tempurung labu tua, tersimpan kisah tentang stigma, penerimaan sosial, dan perjuangan memanusiakan manusia.

Nilai-nilai tersebut kembali diangkat dalam Sarasehan dan Seni (Saraseni) Budaya 2026 yang digelar Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Jambi bersama Ficus Nation (Ficus Hijau Nusantara) di Taman Budaya Jambi, Kota Jambi, Rabu (14/10/2026).

Mengusung tema “Pemajuan Budaya Jambi yang Inklusif, Setara, dan Berkelanjutan”, kegiatan ini mempertemukan mahasiswa, akademisi, pegiat kebudayaan, serta aktivis lingkungan untuk membahas bagaimana tradisi lokal dapat menjawab persoalan sosial masa kini.

Selain diskusi, kegiatan tersebut menghadirkan pertunjukan tari dan teater yang melibatkan mahasiswa Universitas Jambi. Sejumlah isu turut menjadi perhatian, mulai dari kesetaraan gender, perlindungan kelompok rentan, keberlanjutan lingkungan, hingga peran perguruan tinggi dalam memajukan kebudayaan.

Kisah Topeng Labu dan Nilai Kemanusiaan

Ketua Perkumpulan Rumah Menapo sekaligus pegiat kebudayaan, Mukhtar Hadi alias Borju, menjelaskan bahwa tradisi Topeng Labu berawal dari pengalaman masyarakat menghadapi wabah kusta yang pernah melanda kawasan Muaro Jambi.

Pada masa itu, penderita kusta terpaksa mengasingkan diri ke hutan atau dikenal dengan istilah “ngutan”. Ketika Hari Raya Idulfitri tiba, mereka ingin kembali berbaur dengan keluarga dan masyarakat.

Untuk menutupi wajah yang mengalami kerusakan akibat penyakit tersebut, mereka menggunakan tempurung buah labu tua yang dihias dengan jelaga.

“Uniknya, tanaman labu tumbuh di ladang masyarakat. Ketika tua dan kering, tempurungnya dijadikan media penutup wajah. Saat mereka mengarak diri keliling kampung membawa keranjang (ambung), warga bukannya mengusir, melainkan menyambut hangat dengan berbagi makanan dan minuman. Di situlah lahir nilai pertama: kesetaraan, empati, dan saling berbagi,” katanya, Rabu (14/9/2026).

Menurut Borju, tradisi arakan Topeng Labu terus dirawat masyarakat setempat, termasuk generasi muda laki-laki dan perempuan. Tradisi tersebut juga berkembang menjadi pertunjukan panggung, sarana edukasi anak melalui Sekolah Alam Raya, serta penggerak ekonomi desa melalui kuliner dan kerajinan.

Bagi Borju, nilai utama Topeng Labu terletak pada kemampuannya menghapus sekat sosial. Ketika topeng dikenakan, perbedaan status ekonomi, kondisi kesehatan, dan jenis kelamin tidak lagi menjadi pembatas dalam kehidupan bersama.

Tradisi ini juga membuka ruang lebih luas bagi perempuan untuk terlibat dalam kegiatan kebudayaan. Jika sebelumnya terdapat batasan kultural dalam masyarakat Melayu yang membatasi perempuan tampil di panggung jalanan, kini perempuan turut berperan dalam merancang kostum, mewarnai media labu, hingga menari dalam arakan lintas desa.

Mahasiswa Unja Hidupkan Kembali Tradisi

Nilai-nilai dalam Topeng Labu kemudian diterjemahkan ke dalam bentuk pertunjukan oleh 12 mahasiswa Universitas Jambi dalam Saraseni Budaya 2026.

Melalui kolaborasi teater dan tari, para mahasiswa mengeksplorasi gerakan serta dialog yang berangkat dari kisah Topeng Labu. Pertunjukan tersebut menjadi upaya memperkenalkan kembali tradisi lokal kepada generasi muda dengan pendekatan yang lebih dekat dengan kehidupan mereka.

Keterlibatan mahasiswa laki-laki dan perempuan secara seimbang juga memperlihatkan bahwa seni tradisi dapat menjadi ruang untuk mempraktikkan kesetaraan gender.

Dengan demikian, pelestarian budaya tidak hanya dilakukan dengan mempertahankan bentuk kesenian, tetapi juga menjaga nilai-nilai kemanusiaan yang terkandung di dalamnya.

Kesetaraan Berkaitan dengan Perlindungan Lingkungan

Persoalan inklusivitas tidak hanya ditemukan dalam tradisi dan kesenian. Isu tersebut juga berkaitan dengan pengelolaan sumber daya alam dan dampak kerusakan lingkungan terhadap kelompok masyarakat yang rentan.

Direktur Cappa Keadilan Ekologi, Utari Octikarani, mengatakan bahwa kelompok seperti anak-anak, perempuan, masyarakat adat, penyandang disabilitas, dan warga desa terpencil kerap menghadapi dampak besar dari kerusakan lingkungan, ketidakpastian tata ruang, serta konflik tenurial.

“Inklusivitas sejati menuntut komitmen kita untuk menjamin ruang aman, nyaman, dan partisipasi yang bermakna bagi kelompok-kelompok rentan. Kerusakan ekologis memicu ketimpangan ekonomi dan ancaman gizi seperti stunting pada anak-anak di pedalaman,” ujar Tari.

Untuk menjawab persoalan tersebut, Cappa mendorong penerapan prinsip Gender Equality, Disability, and Social Inclusion (GEDSI), yakni pendekatan yang menempatkan kesetaraan gender, pemenuhan hak penyandang disabilitas, dan inklusi sosial sebagai bagian dari pembangunan.

Melalui pendekatan berbasis keluarga dan riset aksi partisipatif, Cappa mendorong perempuan di sejumlah desa di Jambi mengambil peran dalam kelembagaan Perhutanan Sosial sekaligus mengembangkan ekonomi sirkuler.

Di Desa Sepitun, misalnya, kelompok perempuan mengelola usaha minyak kelapa kampung, mengolah limbah batok kelapa menjadi arang bakar, serta memanfaatkan air kelapa sebagai bahan pupuk organik cair.

Mereka juga mengembangkan kegiatan penanaman sayuran organik untuk membantu memenuhi kebutuhan gizi anak-anak desa.

Sementara itu, melalui gerakan Sehat Alam Sehat Anak, anak-anak didorong terlibat dalam upaya menjaga lingkungan. Bentuk partisipasi tersebut antara lain menyusun aturan sekolah bebas sampah plastik hingga menyampaikan kepedulian terhadap deforestasi melalui karya seni.

Universitas Jambi Dorong Pemajuan Kebudayaan

Dekan FKIP Universitas Jambi, Prof. Dr. M. Sopian, S.Ag., M.Ag., menilai pendidikan dan kebudayaan merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Menurut dia, pelestarian adat istiadat dan nilai lokal Jambi menjadi bagian penting dari tanggung jawab dunia pendidikan.

“Pendidikan dan kebudayaan itu tidak bisa dipisahkan. Dulu Unja pernah memiliki Fakultas Ilmu Budaya sebelum akhirnya dilebur ke dalam FKIP. Karena Jambi memiliki kekayaan budaya yang sangat luar biasa, kami menganggap budaya adalah bagian penting dari dunia pendidikan,” kata Sopian dalam sambutannya.

Di tengah kabut asap yang melanda Jambi, FKIP Universitas Jambi tetap berkomitmen menyelenggarakan agenda kebudayaan. Sopian juga mengungkapkan bahwa pihak universitas sedang memperjuangkan pendirian kembali Fakultas Ilmu Budaya (FIB) di Universitas Jambi.

Menurut dia, usulan tersebut telah mendapat sinyal positif dari Menteri Kebudayaan saat melakukan kunjungan kerja ke Universitas Jambi beberapa waktu lalu.

Sementara itu, Ketua Program Studi Sendratasik Universitas Jambi, Prof. Dr. Mahdi Bahar, S.Kar., M.Hum., menyoroti pentingnya memahami pemajuan kebudayaan sebagai proses yang dinamis.

Ia menekankan bahwa kebudayaan nasional harus terus berkembang dan mampu berinteraksi dengan peradaban dunia, bukan sekadar bertahan dalam lingkup lokal.

“Mencerdaskan kehidupan bangsa itu berfokus pada pembangunan manusia, bagaimana konsep kita tentang manusia, penguasaan ilmu pengetahuan, hingga pembentukan karakter yang berakar pada kepribadian bangsa sendiri, bukan meniru identitas luar,” papar Prof. Mahdi.

Mahdi juga mengingatkan bahwa penggunaan teknologi modern tidak otomatis menunjukkan kemajuan apabila tidak disertai kemampuan berpikir kritis dan penguasaan ilmu pengetahuan.

“Jangan dikatakan kita sudah maju hanya karena punya barang modern atau sibuk bermain TikTok sepanjang hari. Cerdas itu lawannya bodoh. Pemanfaatan teknologi harus ditujukan untuk efisiensi dan kemajuan ilmu pengetahuan. Jika kita tidak paham apa yang dipelihara dan dikembangkan dari 10 Objek Pemajuan Kebudayaan, nilai budaya yang sejatinya ‘emas’ justru bisa berubah menjadi ‘kerikil” katanya.

Dekatkan Isu Kesetaraan kepada Anak Muda

Divisi Kemitraan dan Solidaritas Ficus Nation, Hospita, mengatakan keterlibatan organisasinya dalam Saraseni Budaya 2026 merupakan bagian dari upaya mendekatkan isu kesetaraan gender, inklusivitas, dan keberlanjutan kepada anak muda melalui pendekatan kreatif dan seni.

Kata Hospita, Ficus Nation percaya bahwa isu kesetaraan bukan sesuatu yang jauh atau terlalu berat untuk dibicarakan karena ini memang ada dalam kehidupan sehari-hari anak muda.

“Melalui diskusi, pertunjukan tari dan teater, kami berharap anak muda dapat lebih dekat dengan isu-isu tersebut, merefleksikan pengalaman mereka, serta menjadi bagian dari perubahan menuju masyarakat yang lebih setara, inklusif, dan berkelanjutan,” katanya.

Melalui kisah Topeng Labu, pertunjukan mahasiswa, dan diskusi lintas bidang, Saraseni Budaya 2026 menunjukkan bahwa pemajuan kebudayaan tidak berhenti pada pelestarian tradisi.

Kebudayaan juga dapat menjadi ruang untuk merawat empati, memperluas partisipasi masyarakat, memperjuangkan kesetaraan, dan membangun kesadaran terhadap lingkungan. Dengan melibatkan generasi muda dan perguruan tinggi, nilai-nilai lokal diharapkan tetap hidup sekaligus relevan dalam menghadapi persoalan masa kini.

Rekomendasi Untuk Anda

  • Bocah 11 Tahun Tenggelam di Sungai Batanghari Jambi Ditemukan Meninggal, Operasi SAR Berakhir

    Bocah 11 Tahun Tenggelam di Sungai Batanghari Jambi Ditemukan Meninggal, Operasi SAR Berakhir

    • calendar_month Jumat, 16 Okt 2026
    • account_circle Andi
    • visibility 3
    • 0Komentar

    TRISARA INDONESIA – Pencarian seorang anak laki-laki berusia 11 tahun yang tenggelam di Sungai Batanghari, Desa Rantau Kapas Mudo, Kecamatan Tembesi, Kabupaten Batanghari, Jambi, berakhir pada Jumat (16/10/2026). Korban bernama Akbar ditemukan dalam kondisi meninggal dunia setelah tim SAR gabungan melakukan pencarian sejak Kamis (15/10/2026). Korban ditemukan sekitar 1,5 kilometer dari lokasi awal kejadian. Setelah […]

  • Pengamat Nilai 100 Hari Direksi Baru BEI: Lanjutkan Reformasi dan Akselerasi Pendalaman Pasar

    Pengamat Nilai 100 Hari Direksi Baru BEI: Lanjutkan Reformasi dan Akselerasi Pendalaman Pasar

    • calendar_month Selasa, 13 Okt 2026
    • account_circle Rini
    • visibility 22
    • 0Komentar

    TRISARA – Sejak dilantik pada 29 Juni lalu, jajaran Direksi Bursa Efek Indonesia (BEI) periode 2026–2030 langsung dihadapkan pada agenda besar untuk memperkuat integritas pasar, memperdalam likuiditas, memperluas basis investor dan produk, serta meningkatkan daya saing bursa di tengah dinamika pasar global. Memasuki 100 hari pertama kepemimpinannya, Direksi BEI mulai merealisasikan berbagai agenda strategis melalui […]

  • Aliansi Jambi Menggugat Demo di Kantor Gubernur, Desak Transparansi Anggaran

    Aliansi Jambi Menggugat Demo di Kantor Gubernur, Desak Transparansi Anggaran

    • calendar_month Kamis, 15 Okt 2026
    • account_circle Andi
    • visibility 5
    • 0Komentar

    TRISARA INDONESIA – Sejumlah massa yang tergabung dalam Aliansi Jambi Menggugat menggelar demonstrasi di depan Kantor Gubernur Jambi, Kamis (15/10/2026). Mereka mendesak Pemerintah Provinsi Jambi membuka transparansi anggaran pembangunan multiyears, mengaudit dana penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla), hingga meminta Gubernur Jambi Al Haris mundur dari jabatannya. Aksi tersebut menjadi bentuk protes terhadap sejumlah kebijakan […]

  • Hidup Sehat Bantu Redakan Stres dan Beban Pikiran, Ini 6 Kebiasaan yang Bisa Dilakukan

    Hidup Sehat Bantu Redakan Stres dan Beban Pikiran, Ini 6 Kebiasaan yang Bisa Dilakukan

    • calendar_month Rabu, 14 Okt 2026
    • account_circle Trisara Indonesia
    • visibility 10
    • 0Komentar

    TRISARA INDONESIA – Di tengah kesibukan dan tuntutan kehidupan sehari-hari, stres dan beban pikiran menjadi hal yang sulit dihindari. Pekerjaan yang menumpuk, masalah ekonomi, hingga persoalan pribadi sering kali membuat seseorang merasa lelah, bahkan ketika tubuhnya tidak melakukan aktivitas berat. Salah satu cara yang dapat dilakukan untuk membantu mengelola stres adalah menerapkan pola hidup sehat. […]

  • Kejati Jambi Tetapkan 6 Tersangka Korupsi Anggaran DPRD Merangin, Kerugian Negara Rp 19,5 Miliar

    Kejati Jambi Tetapkan 6 Tersangka Korupsi Anggaran DPRD Merangin, Kerugian Negara Rp 19,5 Miliar

    • calendar_month Senin, 12 Okt 2026
    • account_circle Sari
    • visibility 39
    • 0Komentar

    TRISARA – Kejaksaan Tinggi (Kejati) Jambi menetapkan enam orang sebagai tersangka dalam kasus dugaan korupsi pengelolaan anggaran Sekretariat DPRD (Setwan) Kabupaten Merangin, Jambi, tahun anggaran 2019-2024. Lima orang di antaranya ditahan pada Senin (12/10/2026), sedangkan satu tersangka lainnya belum menjalani pemeriksaan karena alasan kesehatan. Dalam keterangan persnya, Kejati Jambi menyebutkan, kasus tersebut diduga menyebabkan kerugian […]

  • Penghentian PLTU Mulut Tambang Jambi 1 dan 2 Berpotensi Hemat APBN Rp 144,74 Triliun

    Penghentian PLTU Mulut Tambang Jambi 1 dan 2 Berpotensi Hemat APBN Rp 144,74 Triliun

    • calendar_month Kamis, 15 Okt 2026
    • account_circle Trisara Indonesia
    • visibility 8
    • 0Komentar

    TRISARA INDONESIA – Rencana pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Mulut Tambang Jambi-1 dan Jambi-2 dinilai perlu dikaji ulang. Pasalnya, kelanjutan dua proyek pembangkit berbahan bakar batu bara itu berpotensi menambah beban Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hingga Rp 144,74 triliun. Temuan tersebut tertuang dalam kajian CERAH bertajuk Potensi Penghematan Pengeluaran Negara dari Penghentian […]

expand_less