Breaking News
dark_mode
Trending Tags
Beranda » Daerah » Korban Kabut Asap di Jambi Tak Hanya Kehilangan Kesehatan, AJI Desak Negara Beri Kompensasi

Korban Kabut Asap di Jambi Tak Hanya Kehilangan Kesehatan, AJI Desak Negara Beri Kompensasi

  • account_circle Rini
  • calendar_month Senin, 26 Okt 2026
  • visibility 21
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

TRISARA INDONESIA – Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) bukan hanya mengancam kesehatan warga Jambi. Bencana ini juga menambah pengeluaran rumah tangga, mengganggu aktivitas anak, hingga menekan pendapatan pekerja informal.

Namun, kerugian yang dialami masyarakat tersebut dinilai belum mendapat perhatian yang memadai. Negara pun didesak menyiapkan mekanisme kompensasi bagi warga, terutama kelompok rentan yang paling terdampak.

Persoalan itu mengemuka dalam diskusi publik bertajuk “Menagih Ruang Aman Korban Karhutla” yang digelar Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Jambi di Senyala Space, Simpang III Sipin, Kota Jambi, Senin (26/10/2026).

Direktur Beranda Perempuan, Zubaidah, mengatakan dampak karhutla tidak bisa hanya dihitung berdasarkan jumlah titik api, luas lahan terbakar, atau kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).

Menurut dia, masyarakat juga menanggung kerugian ekonomi dan psikologis yang muncul selama kabut asap menyelimuti permukiman mereka.

“Kita juga harus menghitung ganti rugi secara ekonomi, pengeluaran listrik, peningkatan biaya kuota internet. Kemudian secara psikis kita juga dirugikan. Sehingga negara harus punya mekanisme untuk memberikan kompensasi dan ganti rugi kepada kelompok rentan yang paling terdampak kena asap kebakar rentan dan lahan,” katanya.

Pengeluaran warga bertambah saat kabut asap

Dampak kabut asap dapat merembet ke berbagai kebutuhan rumah tangga. Warga harus mengeluarkan biaya tambahan untuk menjaga kesehatan, sementara kegiatan belajar anak secara daring juga meningkatkan kebutuhan listrik dan kuota internet.

Bagi pekerja informal, situasinya bisa lebih berat. Pengemudi ojek online, misalnya, harus menghadapi risiko paparan asap ketika bekerja di luar ruangan. Di saat bersamaan, kondisi udara yang buruk dapat mengganggu aktivitas dan pendapatan mereka.

Dampak tersebut menjadi perhatian dalam diskusi yang juga menghadirkan Ketua AJI Jambi Suwandi, perwakilan Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Jambi Aditya, serta Ketua Yayasan Pesona Kebaikan Sahrul Adli.

Suwandi menegaskan bahwa tanggung jawab pemerintah tidak boleh berhenti pada penanganan darurat ketika kebakaran masih berlangsung.

“Bagaimana ini diberi pertanggungjawaban dari pemerintah untuk dipantau secara terus menerus kondisinya ketika sudah terpapar ISPA. Jangan sampai ke depan menjadi semakin parah, dan pemerintah harus langsung hadir untuk memberikan pelayanan terbaik,” kata Suwandi.

Menurut dia, kelompok rentan seperti ibu hamil, lansia, balita, dan pekerja sektor informal perlu mendapatkan perhatian khusus. Pendataan yang menyeluruh dibutuhkan agar bantuan kesehatan tidak hanya berfokus pada angka kasus penyakit, tetapi juga menjangkau masyarakat yang kesulitan memperoleh pelayanan.

Warga pedalaman kesulitan mengakses layanan kesehatan

Persoalan perlindungan korban juga terlihat dari keterbatasan akses kesehatan di wilayah pedalaman.

Zubaidah mencontohkan masyarakat adat Batin Sembilan yang harus menempuh perjalanan hingga tujuh jam untuk mencapai fasilitas kesehatan.

Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa dampak karhutla tidak dirasakan secara merata. Warga yang tinggal jauh dari fasilitas kesehatan menghadapi hambatan lebih besar ketika membutuhkan pemeriksaan atau pertolongan medis.

Untuk membantu masyarakat terdampak, Beranda Perempuan telah membuka layanan darurat terbatas sejak akhir September. Layanan di kantor mereka itu menyediakan ruang beroksigen dan masker gratis.

Zubaidah juga mengusulkan agar kantor desa dapat difungsikan sebagai Rumah Aman Asap yang dilengkapi tenaga medis. Lokasinya perlu disesuaikan dengan sebaran titik api dan keberadaan kelompok rentan, termasuk masyarakat adat di wilayah pedalaman.

Ia turut mempertanyakan alasan efisiensi anggaran yang dinilai menjadi kendala dalam penyediaan fasilitas perlindungan bagi masyarakat.

“Anggaran itu ada. Kenapa program seperti pos atau kebijakan anggaran yang tidak prioritas bisa dijalankan, sementara untuk mendirikan Rumah Aman Asap di pelosok-pelosok desa seolah terkendala?” ujar Zubaidah.

Rumah Aman Asap bantu warga terdampak

Salah satu upaya yang telah berjalan untuk membantu korban ialah program Rumah Aman Asap yang diinisiasi Yayasan Pesona Kebaikan melalui kerja sama dengan platform Kitabisa.

Program tersebut menyediakan ruangan beroksigen, pemeriksaan kesehatan gratis, penyaluran suplemen dan vitamin, serta layanan pengantaran tabung oksigen langsung ke rumah warga.

Penerima manfaatnya mencakup ibu hamil dan pekerja informal, termasuk pengemudi ojek online yang mengalami penurunan pendapatan akibat karhutla.

Ketua Yayasan Pesona Kebaikan Sahrul Adli menilai penanganan korban perlu melibatkan lebih banyak unsur masyarakat, bukan hanya mengandalkan anggaran dan tenaga dari instansi pemerintah.

Ia mendorong dinas kesehatan menggerakkan mahasiswa dan kelompok yang memiliki kompetensi kesehatan untuk melakukan pemeriksaan langsung kepada warga, khususnya ibu hamil dan anak-anak.

“Dinas kesehatan harus bisa memimpin suatu gerakan. Masyarakat itu juga memiliki unsur yang berkaitan dengan kesehatan, bisa itu mahasiswa, kebidanan, dan sebagaianya. Sebenarnya itu bisa digerakkan untuk melakukan pemeriksaan ke lapangan atau menjemput terutama pada ibu hamil dan anak-anak. Tidak hanya menunggu,” katanya.

Kompensasi menjadi tuntutan bagi korban

Dalam diskusi tersebut, peserta mendorong pemerintah memperkuat perlindungan korban melalui akses kesehatan, penyediaan ruang aman, dan penanganan berkelanjutan setelah bencana asap berakhir.

Mereka juga memasukkan tuntutan kompensasi bagi warga yang mengalami kerugian akibat karhutla ke dalam rekomendasi bersama.

Tuntutan itu menegaskan bahwa penanganan karhutla tidak cukup hanya mengukur keberhasilan dari padamnya api. Kerugian ekonomi, gangguan kesehatan, dan dampak psikologis yang dialami masyarakat juga perlu diperhitungkan.

Bagi warga yang terdampak, berakhirnya kebakaran belum tentu berarti persoalan selesai. Mereka masih harus menghadapi konsekuensi kesehatan dan ekonomi yang dapat berlangsung setelah kabut asap menghilang.

Karena itu, peserta diskusi mendesak pemerintah memastikan korban memperoleh perlindungan yang layak, sekaligus menyusun mekanisme pertanggungjawaban dan kompensasi yang jelas bagi masyarakat terdampak.

  • Penulis: Rini
  • Editor: Amalia
  • Sumber: AJI JAMBI

Rekomendasi Untuk Anda

  • Bocah 11 Tahun Tenggelam di Sungai Batanghari Jambi Ditemukan Meninggal, Operasi SAR Berakhir

    Bocah 11 Tahun Tenggelam di Sungai Batanghari Jambi Ditemukan Meninggal, Operasi SAR Berakhir

    • calendar_month Jumat, 16 Okt 2026
    • account_circle Andi
    • visibility 13
    • 0Komentar

    TRISARA INDONESIA – Pencarian seorang anak laki-laki berusia 11 tahun yang tenggelam di Sungai Batanghari, Desa Rantau Kapas Mudo, Kecamatan Tembesi, Kabupaten Batanghari, Jambi, berakhir pada Jumat (16/10/2026). Korban bernama Akbar ditemukan dalam kondisi meninggal dunia setelah tim SAR gabungan melakukan pencarian sejak Kamis (15/10/2026). Korban ditemukan sekitar 1,5 kilometer dari lokasi awal kejadian. Setelah […]

  • Sasar 5.000+ Investor Baru via IDX Mobile, Akselerasi Galeri Investasi BEI Sabet Rekor MURI

    Sasar 5.000+ Investor Baru via IDX Mobile, Akselerasi Galeri Investasi BEI Sabet Rekor MURI

    • calendar_month Selasa, 1 Sep 2026
    • account_circle Ama
    • visibility 85
    • 0Komentar

    TRISARA — Upaya pemerataan edukasi pasar modal di tanah air kembali mencatatkan sejarah. Bursa Efek Indonesia (BEI) resmi menganugerahi Rekor Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) atas peresmian serentak 23 Galeri Investasi BEI yang tersebar dari jenjang SMA, perguruan tinggi, hingga berbasis syariah. Tidak sekadar ekspansi fisik, program kolaborasi BEI, MNC Sekuritas, dan OJK ini berhasil […]

  • Penghentian PLTU Mulut Tambang Jambi 1 dan 2 Berpotensi Hemat APBN Rp 144,74 Triliun

    Penghentian PLTU Mulut Tambang Jambi 1 dan 2 Berpotensi Hemat APBN Rp 144,74 Triliun

    • calendar_month Kamis, 15 Okt 2026
    • account_circle Trisara Indonesia
    • visibility 12
    • 0Komentar

    TRISARA INDONESIA – Rencana pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Mulut Tambang Jambi-1 dan Jambi-2 dinilai perlu dikaji ulang. Pasalnya, kelanjutan dua proyek pembangkit berbahan bakar batu bara itu berpotensi menambah beban Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hingga Rp 144,74 triliun. Temuan tersebut tertuang dalam kajian CERAH bertajuk Potensi Penghematan Pengeluaran Negara dari Penghentian […]

  • Pemkot Jambi Tunggu Kepastian Pengalihan Gaji 3.426 PPPK ke Pemerintah Pusat

    Pemkot Jambi Tunggu Kepastian Pengalihan Gaji 3.426 PPPK ke Pemerintah Pusat

    • calendar_month Sabtu, 24 Okt 2026
    • account_circle Andi
    • visibility 44
    • 0Komentar

    TRISARA INDONESIA – Pemerintah Kota Jambi masih menunggu kepastian rencana pengalihan pembayaran gaji 3.426 pegawai pemerintah dengan perjanjian kerja (PPPK) sektor pendidikan dan kesehatan ke pemerintah pusat. Selama ini, Pemkot Jambi harus mengalokasikan anggaran lebih dari Rp 250 miliar per tahun untuk membayar gaji ribuan pegawai tersebut. Wali Kota Jambi Maulana mengatakan, pembiayaan gaji PPPK […]

  • DPRD Kota Jambi Soroti Anggaran Kampung Bahagia, Jalan Rusak hingga Fasilitas Puskesmas

    DPRD Kota Jambi Soroti Anggaran Kampung Bahagia, Jalan Rusak hingga Fasilitas Puskesmas

    • calendar_month Sabtu, 24 Okt 2026
    • account_circle Andi
    • visibility 211
    • 0Komentar

    TRISARA INDONESIA – Ketua DPRD Kota Jambi Kemas Faried Alfarelly menilai jawaban Pemerintah Kota Jambi terkait Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (RAPBD) 2027 belum optimal. Sejumlah persoalan, mulai dari proyeksi pendapatan daerah hingga alokasi anggaran pembangunan, masih menjadi perhatian DPRD. Hal itu disampaikan Kemas Faried setelah mendengarkan jawaban Wali Kota Jambi Maulana atas pandangan […]

  • Topeng Labu Muaro Jambi, Tradisi dari Kisah Penderita Kusta yang Kini Membawa Pesan Kesetaraan

    Topeng Labu Muaro Jambi, Tradisi dari Kisah Penderita Kusta yang Kini Membawa Pesan Kesetaraan

    • calendar_month Selasa, 13 Okt 2026
    • account_circle skalajambi@gmail.com
    • visibility 71
    • 0Komentar

    TRISARA – Di balik Topeng Labu khas Desa Muaro Jambi, Kabupaten Muaro Jambi, tersimpan kisah tentang stigma, pengucilan, dan kerinduan untuk kembali diterima masyarakat. Tradisi yang diwariskan secara turun-temurun ini kini diangkat ke panggung seni untuk menyampaikan pesan kesetaraan dan inklusivitas. Kisah tersebut menjadi bagian dari diskusi publik dan pertunjukan seni Topeng Labu yang digelar […]

expand_less